Sayang dan Syukur

Alkisah, seorang guru sekola sedang mengajar di kelasnya. Guru tersebut memberi tugas kepada murid-muridnya. “Anak-anak, tugas belajar hari ini adalah menggambar bebas. Buatlah gambar atau apa saja yang kalian anggap berharga atau benda yang kalian miliki,“ perintahnya.
“Misalnya, rumah yang kamu tinggali bersama orang tua, benda yang kamu sayangi, pemandangan alam yang indah atau benda apapun yang kamu inginkan. Bagaimana anak-anak, sudah jelas bukan?” tanya bu guru.
“Sekarang, keluarkan alat-alat gambar dan segera mulai menggambar,” lanjut sang guru. Dan anak-anak itu pun dengan gembira mulai mengeluarkan alat-alat gambarnya sambil berceloteh, saling melontarkan pertanyaan dan jawaban tentang benda apa yang akan digambarnya.

Pengorbanan Pedagang Asongan

Kututup hidung ketika melewati kerumunan kambing. Baunya yang menyengat ternyata tidak mengganggu penjualnya. Dalam hati sempat juga ngedumel sich, “Nih orang mau jualan kambing gak melihat-lihat tempat apa? Masak jual hewan yg bau itu di dekat kios-kios elektronik. Kenapa nggak sekalian aja jualan di dalam mall?” gerutuku dalam hati. Orang yang lalu lalang, ada yang cuek, ada yang menutup hidung, ada juga yang justru menghampiri hewan bau itu.

Tunggal Guru

Alkisah, di sebuah perguruan beladiri yang terletak di atas bukit, ada dua orang murid yang bersahabat. Biarpun tinggal di bukit berbeda yang dibatasi oleh sebuah anak sungai, tapi jadwal rutin mereka sama. Setiap hari keduanya bertemu pada saat mengambil air di sungai untuk keperluan minum dan hidup mereka.

Jiwa Sedekah

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Supir Taksi

Ini baru supir taksi. Rapi, sopan, terbuka, jujur dan satu hal: tegas perihal kewajiban “menjawab” bagi seorang yang mendengar suara adzan. Tak ada kompromi dalam hal yang menurut dia sangat gawat ini. Pokoknya, begitu mendengar suara adzan dia harus turun dan shalat! Tak perduli apakah di dalam taksinya ada penumpang atau tidak. Tak ada urusan kalau penumpangnya, misalnya, mendadak minta pindah taksi. Ini memang baru sopir taksi. Di mana sih ada sopir yang berani tegas-tegasan dan selalu istikamah meyakini “kekerasan disiplinnya”? Beruntunglah dia bukan supir bus kota, misalnya, atau supir kereta api.